PENGEMBANGAN
KURIKULUM MUATAN LOKAL
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi
tugas matakuliah Pengembangan
Kurikulum Muatan Lokal
yang dibina oleh Bapak Anselmus JE Toenlioe
Ilham
maret budiarto
110121401695
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
September 2013
PENGEMBANGAN
KURIKULUM MUATAN LOKAL
I. Pendahuluan
Indonesia
yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki keanekaragaman
multikultur (adat istiadat, tata cara, bahasa, kesenian, kerajinan,
keterampilan daerah, dan lain-lain) merupakan ciri khas yang memperkaya
nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu keanekaragaman tersebut
harus selalu dilestarikan dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan
nilai-nilai luhur bangsa Indonesia melalui upaya pendidikan.
Sekolah
sebagai tempat program pendidikan, merupakan bagian dari masyarakat, yang
sekaligus sebagai miniatur masyarakat. Oleh karena itu, program pendidikan di
sekolah perlu memberikan wawasan yang luas pada peserta didik tentang
kekhususan yang ada di lingkungannya. Standar isi yang terdapat pada suatu
kurikulum yang seluruhnya disusun secara terpusat tidak mungkin dapat mencakup
muatan lokal tersebut. Sehingga perlulah disusun mata pelajaran yang berbasis
pada muatan lokal yang disusun oleh sekolah pada tingkat satuan pendidikan yang
disesuaikan dengan lingkungan daerah masing-masing.
Berdasarkan
uraian diatas, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini meliputi: (1) Pengertian
MuatanLokal Keterampilan,
(2) Tujuan dan Fungsi Muatan Lokal,
(3) Kedudukan Muatan Lokal
(4)Ruang Lingkup Muatan Lokal (5).Konsep Pengembangan,
(6)Pelaksanaan Kurikulum
Muatan Lokal, (7)Hal-Hal yang Harus
Diperhatikan dalam Pembelajaran Muatan Lokal.
Mengacu dari masalah yang akan dibahas dalam makalah tersebut maka tujuan
penulis makalah ini meliputi : (1) Mendeskripsikan Pengertian
MuatanLokal Keterampilan,
(2) Mendeskripsikan Tujuan dan
Fungsi Muatan Lokal, (3).Mendeskripsikan Kedudukan Muatan Lokal,
(4) Mendeskripsikan Ruang Lingkup Muatan Lokal, (5) Mendeskripsikan Konsep Pengembangan,
(6) Mendeskripsikan Pelaksanaan
Kurikulum Muatan Lokal, (7)
Mendeskripsikan Hal-Hal yang
Harus Diperhatikan dalam Pembelajaran Muatan Lokal
II.
Pembahasan
1. Pengertian
Kurikulum Muatan Lokal
Kurikulum muatan
lokal adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
yang ditetapkan oleh daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah
masing-masing serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
belajar mengajar (Depdikbud dalam E. Mulyasa, 2010).
Secara umum, pengertian muatan lokal adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran
yang disusun oleh satuan pendidikan sesuai dengan keragaman potensi daerah,
karakteristik daerah, keunggulan daerah, kebutuhan daerah, dan lingkungan masing-masing serta
cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Secara khusus,
muatan lokal adalah program pendidikan dalam bentuk mata
pelajaran yang isi dan media pembelajarannya
dikaitkan dengan lingkungan
alam, lingkungan sosial, dan
lingkungan budaya serta
kebutuhan daerah yang
wajib dipelajari oleh peserta didik di daerah itu (Zainal Arifin, 2011:
205) .
Pengertian
keterampilan dalam konteks
pembelajaran mata pelajaran di
sekolah adalah usaha untuk memiliki keahlian yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
Keahlian yang dimaksud juga dapat diartikan
sebagai kemampuan dasar
yang harus diasah
melalui berbagai cara, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah
pembelajaran keterampilan.
Penentuan isi dan bahan pelajaran muatan lokal
didasarkan pada keadaan dan kebutuhan lingkungan, yang dituangkan dalam mata
pelajaran dengan alokasi waktu yang berdiri sendiri.Adapun materi dan isinya
ditentukan oleh satuan pendidikan, yang dalam pelaksanaannya merupakan kegiatan
kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan daerah.
Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang terdapat di
daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan
sosial serta lingkungan budaya.
Lingkungan alam adalah lingkungan alamiah yang ada di sekitar, berupa
benda-benda mati yang terbagi dalam empat
kelompok lingkungan, yaitu
pantai, dataran rendah termasuk
di dalamnya daerah aliran sungai, dataran tinggi dan pegunungan atau gunung.
Dengan kata lain, lingkungan alam adalah lingkungan hidup dan tidak hidup,
dimana tempat makhluk hidup tinggal dan membentuk ekosistem. Kemudian
lingkungan sosial adalah lingkungan dimana terjadi interaksi orang per orang
dengan kelompok sosial dengan kelompok lain. Pendidikan sebagai lembaga sosial
dalam sistem sosial dilaksanakan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.PP
No.28/1990 menunjukkan perlunya perencanaan kurikulum muatan lokal yang
bermuara pada hal yang berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional dan
pembangunan bangsa.Lingkungan budaya adalah daerah dalam pola kehidupan
masyarakat yang berbentuk bahasa daerah, seni daerah, adat istiadat daerah,
serta tatacara dan tatakrama khas daerah.Selain itu juga termasuk keterampilan
untuk mengembangkan kemampuan dari dalam diri seseorang.
Berdasarkan
beberapa pengertian tersebut
dapat disimpulkan muatan lokal
keterampilan adalah suatu upaya pembelajaran yang diberikan berupa mata
pelajaran yang berkaitan untuk meningkatkan kemampuan dasar yang dimiliki
siswa. Isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam,
lingkungan sosial, dan lingkungan budaya
yang ada di daerah tersebut dan wajib diikuti oleh seluruh siswa. Selain
itu juga dapat diarahkan dengan pembelajaran keterampilan, agar
siswa dapat mengetahui
potensi dasar yang dimiliki.
2. Tujuan
dan Fungsi Muatan Lokal
Tujuan muatan lokal adalah untuk memberikan bekal
pengetahuan, keterampilan dan sikap hidup kepada peserta didik agar memiliki
wawasan yang mantap tentang lingkungan dan masyarakat sesuai dengan nilai yang
berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta
pembangunan nasional.
Lebih lanjut dikemukakan, bahwa secara khusus
pelajaran muatan lokal bertujuan agar peserta didik :
a. Mengenal
dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya.
b. Memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta
pengetahuan mengenai daerahnya yang
berguna bagi dirinya
maupun lingkungan masyarakat pada umumnya.
c. Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan
nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan
dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang
pembangunan nasional.
Pemahaman terhadap konsep dasar dan tujuan muatan
lokal di atas, menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum muatan lokal pada
hakekatnya bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara peserta didik dengan
lingkungannya (E. Mulyasa, 2010).Adapun fungsi muatan lokal dalam komponen kurikulum secara keseluruhan
memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Fungsi
Penyesuaian
Sekolah merupakan komponen dalam masyarakat, sebab
sekolah berada dalam lingkungan masyarakat.Oleh karena itu, program sekolah
harus disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan daerah dan masyarakat.
Demikian juga pribadi- pribadi yang ada dalam sekolah yang hidup dalam
lingkungan masyarakat, sehingga perlu
diupayakan agar setiap
pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan daerah lingkungannya.
b. Fungsi
Integrasi
Peserta
didik adalah bagian
integral dari masyarakat. Karena itu, muatan lokal
merupakan program pendidikan yang berfungsi mendidik pribadi-pribadi peserta
didik agar dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat dan lingkungannya atau
berfungsi untuk membentuk dan mengintegrasikan pribadi peserta didik dengan
masyarakat.
c. Fungsi
Perbedaan
Peserta didik yang satu dengan yang lain berbeda.
Pengakuan atas perbedaan berarti memberi kesempatan bagi setiap pribadi untuk
memilih apa yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Muatan lokal
adalah suatu program pendidikan yang pengembangannya bersifat luwes, yaitu
program pendidikan yang
pengembangannya disesuaikan
dengan minat, bakat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik, lingkungan dan
daerahnya. Hal ini bukan berarti muatan lokal akan mendidik setiap pribadi yang
individualistik, akan tetapi muatan lokal harus dapat berfungsi untuk mendorong
dan membentuk peserta didik kearah kemajuan sosialnya dalam masyarakat.
Berdasarkan tujuan dan fungsi tersebut di atas, dapat
ditarik kesimpulan tujuan dan fungsi muatan lokal keterampilan adalah untuk
memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap hidup kepada peserta didik
serta mata pelajaran muatan lokal keterampilan ini menyesuaikan dengan
lingkungan sekitar, memberikan bekal agar siswa dapat bermanfaat untuk
masyarakat sekitar, serta memberikan wawasan agar siswa mengetahui kemampuan
dasar yang dimiliki dan kemampuan dasar tersebut menjadi kelebihan dari siswa
itu sendiri.
3. Kedudukan Muatan Lokal
Kududukan kurikulum muatan lokal merupakan satu kesatuan
utuh yang tak terpisahkan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP).Kurikulum muatan lokal merupakan upaya agar penyelenggaraan pendidikan
di daerah dapat disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan daerah yang
bersangkutan.Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional,
sehingga pengembangan dan implementasi kurikulum muatan lokal mendukung dan
melengkapi KTSP.
Muatan
lokal memiliki posisi
sebagai komponen kurikulum.Muatan lokal adalah bahan yang
berkaitan dengan lingkungan sekitar yang dianggap penting oleh pendidik atau
masyarakat sekitar untuk dipelajari oleh anak didik.Sebagai komponen kurikulum,
muatan lokal merupakan media penyampaian. Agar dapat mempelajari sesuatu dengan
baik, diperlukan sumber bacaan atau narasumber yang memahami bahan
pengajaran itu. Sumber
bacaan yang ditulis
oleh orang daerah dan narasumber yang berasal dari daerah merupakan
media.
Muatan lokal dalam kurikulum dapat menjadi mata
pelajaran yang berdiri sendiri atau menjadi bahan kajian suatu mata pelajaran
yang telah ada.Sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, muatan lokal
memiliki alokasi waktu tersendiri.Tetapi, sebagai bahan kajian mata pelajaran,
muatan lokal sebagai tambahan bahan kajian yang telah ada. Karena itu, muatan
lokal bisa mempunyai alokasi waktu sendiri dan bisa juga
tidak. Muatan lokal
sebagai mata pelajaran
yang berdiri sendiri tentu dapat
diberikan alokasi jam pelajaran. Misalnya : mata pelajaran bahasa daerah,
pendidikan kesenian, dan pendidikan keterampilan. Demikian pula, muatan lokal
sebagai bahan kajian tambahan dari bahasan atau lebih yang dapat diberikan
alokasi waktunya, tetapi muatan lokal sebagai bahan kajian yang merupakan
penjabaran yang lebih mendalam dari pokok bahasan atau subpokok bahasan yang
telah ada, sukar untuk diberikan alokasi jam pelajaran tersendiri.Muatan lokal
itu sendiri berupa disiplin di sekolah, sopan santun berbuat dan berbicara,
kebersihan serta keindahan sangat sukar, bahkan tidak mungkin diberikan alokasi
waktu.

80% Kurikulum
Nasional
Kurikulum Nasional
20% Kurikulum
Nasional
Gambar 1. Kedudukan Muatan Lokal dalam Kurikulum
Kedudukan muatan
lokal dalam kurikulum
adalah 20 % dari
seluruh program kurikuler yang berlaku. Alokasi waktu yang diberikan juga 20%
dari keseluruhan program kurikuler di sekolah.
Alokasi waktu untuk mata pelajaran muatan lokal di
setiap jenjang pendidikan itu hampir sama yaitu 2 jam pelajaran, hanya berbeda
waktunya untuk masing-masing jenjang (E. Mulyasa, 2007: 275).
a. Jenjang
pendidikan dasar, untuk tingkat SD/MI/SDLB, masing- masing 2 jam pelajaran per
minggu ( 1 jam pelajaran = 35menit), sedangkan SMP/MTs/SMPLB, masing-masing 2
jam pelajaran per minggu ( 1 jam pelajaran = 40 menit)
b.
Jenjang pendidikan menengah,
untuk SMA/MA/SMALB, masing-masing
2 jam pelajaran per minggu ( 1 jam pelajaran = 45 menit), sedangkan SMK/MAK
masing-masing 2 jam pelajaran per minggu ( 1 jam pelajaran = 45 menit dan
durasi waktu 192 jam)
Adapun kegiatan belajar mengajar efektif dalam satu
tahun pelajaran (dua semester), baik untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, maupun SMK/MAK
pada umumnya berkisar
34 sampai 38 minggu. Hal ini bisa dipelajari lebih
lanjut dengan kalender pendidikan, dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan
lingkungan di satuan pendidikan masing-masing.
Berdasarkan susunan program di atas, nampak bahwa
muatan lokal pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan
kepada peserta didik di setiap tingkat kelas. Adapun mengenai isi dan
pengembangannya merupakan kewenangan satuan pendidikan dan daerah masing-
masing.
Kedudukan muatan lokal keterampilan memiliki alokasi
waktu tersendiri.Dalam hal ini
perbandingan alokasi waktu
yang diberikan dengan kegiatan kurikuler yang lainnya adalah 80 % dan20
%. Muatan lokal keterampilan memiliki alokasi waktu 20% atau 2 jam pelajaran
setiap minggunya. Mata pelajaran muatan lokal ini tidak berbeda
dengan mata pelajaran
yang lainnya dan
juga memiliki kedudukan yang sama, mata pelajaran muatan lokal ini juga
harus diikuti oleh semua siswa.
4. Ruang Lingkup Muatan Lokal
Ruang lingkup dari muatan lokal di sekolah adalah
sebagai berikut:
a. Muatan
lokal dapat berupa : bahasa daerah, bahasa asing (arab, Inggris, Mandarin dan
Jepang), kesenian daerah, keterampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat
(termasuktatakrama dan budi pekerti), dan pengetahuan tentang karakteristik
lingkungan sekitar, serta hal-hal yang dianggap perlu oleh daerah yang
bersangkutan.
b. Muatan
lokal wajib diberikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, baik pada
pendidikan umum, pendidikan kejuruan maupun pendidikan khusus.
c. Beberapa kemungkinan
ruang lingkup wilayah
berlakunya kurikulum muatan lokal, adalah sebagai berikut: pada seluruh
kabupaten/kota dalam suatu
provinsi, khususnya di SMA/MA/SMK (Suharsimi Arikunto, 1997).
Muatan lokal pada satu kabupaten/kota atau beberapa
kabupaten/kota tertentu dalam suatu provinsi yang memiliki karakteristik yang
sama. Pada seluruh
kecamatan dalam suatukebupaten/kota yang memiliki
karakteristik yang sama. Setiap sekolah dapat memilih dan melaksanakan muatan
lokal sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi masyarakat, serta
kemampuan dan kondisi sekolah (Dakir, 2004: 140).
Ruang lingkup muatan lokal yang sangat banyak dan juga
mencakup seluruh aspek, yang disesuaikan dengan daerah masing- masing. Ruang
lingkup yang sangat
luas tersebut juga
akan menjadikan ciri khas setiap sekolah. Kelebihan muatan lokal ini
akan memberikan pengetahuan yang berbeda
untuk siswanya. Termasuk muatan lokal keterampilan yang
merupakan salah satu muatan lokal yang berbeda dengan yang lain. Keterampilan
yang diberikan menjadikan bekal untuk siswa dalam melanjutkan ke jenjang
pendidikan selanjutnya.
5. Konsep
Pengembangan
Pengembangan muatan lokal perlu memperhatikan potensi
daerah yang meliputi (1) Sumber Daya
Alam (SDA); (2) Sumber Daya Manusia (SDM); (3)
Geografis; (4) Budaya; dan (5) Historis.
1.
Keterkaitan Muatan Lokal dengan Potensi SDA
Sumber Daya Alam (SDA) adalah potensi yang terkandung
dalam bumi, air, dan udara yang dalam bentuk asalnya dapat didayagunakan untuk
berbagai kepentingan. Contoh untuk bidang: pertanian (a.l. padi, buah-buahan,
ubi kayu, jagung, sayur-sayuran dll.), perkebunan (a.l. tebu, tembakau, kopi,
karet, coklat dll.), peternakan (a.l. unggas, sapi, kambing dll.), dan
perikanan (a.l. ikan laut/tawar, tumbuhan laut dll.).
2.
Keterkaitan Muatan Lokal dengan Potensi SDM
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah manusia dengan
segenap potensi yang dimilikinya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan agar menjadi
makhluk sosial yang adaptif (mampu menyesuaikan diri terhadap tantangan alam,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan perubahan sosial budaya) dan
transformatif (mampu memahami, menterjemahkan, dan mengembangkan seluruh
pengalaman dan kontak sosialnya bagi kemaslahatan diri dan lingkungannya pada
masa depan), sehingga mampu mendayagunakan potensi alam di sekitarnya secara
seimbang dan berkesinambungan.
Aspek SDM menjadi penentu keberhasilan dari semua
aspek/potensi muatan lokal, karena SDM sebagai sumber daya dapat memberi dampak positif dan negatif
terhadap kualitas muatan lokal yang akan dikembangkan, bergantung kepada
paradigma, kultur, dan etos kerja SDM yang bersangkutan. Tidak ada realisasi
dan implementasi muatan lokal tanpa melibatkan dan memposisikan manusia sebagai
aspek sentral dalam proses pencapaiannya.
3.
Keterkaitan Muatan Lokal dengan Potensi Geografis
Proses pengkajian muatan lokal ditinjau dari aspek
geografi perlu memperhatikan berbagai aspek, seperti aspek oseanologi (potensi kelautan), antropologi (ragam budaya/suku bangsa yang
sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sektor pariwisata), ekonomi
(meningkatkan kehidupan/taraf hidup masyarakat setempat) dan demografi
(daerah/obyek wisata). Aspek-aspek dimaksud merupakan salah satu aspek penentu
dalam menetapkan potensi muatan lokal.
4.
Keterkaitan Muatan Lokal dengan Potensi Budaya
Budaya merupakan suatu sikap, sedangkan sumber sikap
adalah kebudayaan. Untuk itu, salah satu sikap menghargai kebudayaan suatu
daerah, adalah upaya masyarakat setempat
untuk melestarikan dan menonjolkan ciri khas budaya daerah menjadi muatan
lokal. Sebagai contoh muatan lokal yang berkaitan dengan aspek budaya, antara
lain berbagai upacara keagamaan/adat istiadat (upacara Ngaben di Bali, Sekaten
dan Grebeg di Yogyakarta dll.).
5.
Keterkaitan Muatan Lokal dengan Potensi Historis
Potensi historis merupakan potensi sejarah dalam wujud
peninggalan benda-benda purbakala maupun tradisi yang masih dilestarikan hingga
saat ini. Konsep historis jika dioptimalkan pengelolaannya akan menjadi
arena/wahana wisata yang bisa menjadi aset, bahkan menjadi keunggulan lokal
dari suatu daerah tertentu. Untuk itu, perlu dilakukan pelestarian terhadap
nilai-nilai tradisional dengan memberi sentuhan baru agar terjadi perpaduan
antara kepentingan tradisional dan kepentingan modern, sehingga aset atau
potensi sejarah bisa menjadi bagian dari muatan lokal.Misalnya, Satuan
Pendidikan di sekitar objek wisata Candi Borobudur, Magelang mengembangkan
muatan lokal kepariwisataan.
6. Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal
Berdasarkan
pengalaman yang lalu,
setiap daerah memiliki berbagai pilihan mata pelajaran
muatan lokal baik untuk cakupan wilayah propinsi, kabupaten maupun
kecamatan.Sehubungan dengan itu, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tahap
yang dilalui, baik pada tahap persiapan maupun pada pelaksanaannya (E.Mulyasa,
2007:279-282).
a. Persiapan
Beberapa
hal yang harus
dilakukan oleh guru,
kepala sekolah dan tenaga pendidik lain di sekolah pada tahap persiapan
ini sebagai berikut:
1)
Menentukan mata pelajaran
muatan lokal untuk
setiap tingkat kelas yang sesuai dengan karakteristik peserta didik,
kondisi sekolah, dan kesiapan guru yang akan mengajar.
2) Menentukan
guru. Guru muatan lokal sebaiknya guru yang ada di sekolah, tetapi bisa juga
menggunakan narasumber yang lebih tepat dan professional. Misalnya untuk
kesehatan menggunakan tenaga kesehatan, pertanian menggunakan penyuluh
pertanian, dan kesenian memanfaatkan seniman yang ada di lingkungan sekitar
sekolah. Kehadiran mereka bisa part time (paruh waktu), hanya membantu guru,
tetapi bisa juga full
time (keseluruhan waktu),
langsung memegang dan bertanggung jawab terhadap mata pelajaran
muatan lokaltertentu. Kegiatan ini
bisa dikoordinir oleh kepala sekolah
atau wakil kepala sekolah bidang akademis, bekerja sama dengan komite sekolah.
3) Sumber dana dan sumber belajar. Dana untuk
pelajaran muatan lokal dapat menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional
Sekolah), tetapi bisa juga tidak. Bagi SMK dan SMA mungkin bisa menjual produk
pembelajaran muatanlokal ke masyarakat sehingga biaya operasional bisa
tertanggulangi.Misalnya keterampilan membuat wayang golek dari
kayu di daerah
Purwakarta, Jawa Barat.Demikian halnya dalam kesenian, bisa
membuat group tari atau group seni tertentu, yang sewaktu-waktu bisa
ditampilkan kepada masyarakat.
b. Pelaksanaan
Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal hampir sama
dengan mata pelajaran lain, yang dalam garis besarnya adalah sebagai berikut:
1) Mengkaji
silabus
2) Membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
3)
Mempersiapkan penilaian
4) Tindak
Lanjut
Tindak lanjut adalah langkah-langkah yang akan dan
harus diambil setelah proses
pembelajaran muatan lokal.
Tindak lanjut ini erat kaitannya dengan hasil penilaian terhadap
pelaksanaan pembelajaran. Bentuk tindak lanjut ini, bisa berupa perbaikan terhadap
proses pembelajaran, tetapi juga bisa merupakan upaya untuk mengembangkan lebih
lanjut hasil pembelajaran, misalnya dengan membentuk kelompok belajar, dan
group kesenian (E.Mulyasa, 2010).
Pelaksanaan muatan lokal harus dipersiapkan dengan
matang, pelaksanaan muatan lokal juga harus disesuaikan dengan daerah
masing-masing.Pelaksanaannya juga bertahap yaitu tahap persiapan,
pelaksanaan pembelajaran dan
juga tindak lanjut
yang harus dilakukan.Semua itu
harus dilakukan dengan runtut agar pelaksanaan muatan lokal di sekolah dapat
berjalan dengan baik.
7. Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam
Pembelajaran Muatan Lokal
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pembelajaran muatan lokal yaitu:
a.
Pengorganisasian Bahan
Pengorganisasian bahan hendaknya:
1) Sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik,
baik perkembangan pengetahuan, cara berfikir, maupun perkembangan sosial dan
emosionalnya.
2) Dikembangkan
dengan memperhatikan kedekatan siswa, baik secara fisik maupun psikis.
3) Dipilih yang bermakna dan bermanfaat bagi siswa
dalam kehidupan sehari-hari.
4) Bersifat
fleksibel, yaitu memberi keleluasaan bagi guru dalam memilih metode dan media
pembelajaran.
5) Mengacu pada
pembentukan kompetensi dasar tertentu secara jelas.
b. Pengelolaan
Guru
Pengelolaan guru hendaknya:
1)
Memperhatikan relevansi antara
latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang
diajarkan
2) Diusahakan
yang pernah mengikuti penataran, pelatihan atau kursus tentang muatan lokal
c. Pengelolaan
Sarana Pembelajaran
Pengelolaan sarana pembelajaran hendaknya:
1)
Memanfaatkan sumber daya
yang terdapat di
lingkungan sekolah secara optimal
2) Diupayakan
dapat dipenuhi oleh instansi terkait
d. Kerjasama
antar instansi
Untuk
mewujudkan tujuan kurikulum
muatan lokal, perlu diupayakan kerjasama antar instansi
terkait, antara lain berupa:
1) Pendanaan
2) Penyediaan
narasumber dan tenaga ahli
3) Penyediaan
tempat kegiatan belajar
4) Hal-hal lain
yang menunjang keberhasilan pembelajaran muatan lokal (E. Mulyasa, 2010).
Hal-hal tersebut di atas sangat berpengaruh dalam
pelaksanaan muatan lokal keterampilan di sekolah.Setiap sekolah haruslah benar-
benar memperhatikan semua aspek tersebut yaitu pengelolaan bahan, pengelolaan
guru, pengelolaan sarana pembelajaran dan kerjasama antarinstansi. Semua itu
akan berpengaruh besar apabila tidak diperhatikan dengan baik, jika salah satu
diantaranya itu mengalami permasalahan maka hasil pelaksanaan muatan lokal
tidak akan tercapai dengan maksimal.
III.
Penutup
1.
Kesimpulan
Secara
umum, pengertian muatan lokal adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran yang disusun oleh satuan pendidikan
sesuai dengan keragaman potensi daerah, karakteristik daerah, keunggulan
daerah, kebutuhan daerah, dan lingkungan
masing-masing serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelengaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu
Tujuan
muatan lokal adalah untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap
hidup kepada peserta didik agar memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungan
dan masyarakat sesuai dengan nilai yang berlaku di daerahnya dan mendukung
kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional.Adapun fungsi muatan
lokal dalam komponen kurikulum secara keseluruhan memiliki fungsi diantaranya,fungsi
penyesuaian, fungsi integrasi, dan fungsi perbedaan.
Kedudukan
kurikulum muatan lokal merupakan satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dari
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).Kurikulum muatan lokal merupakan
upaya agar penyelenggaraan pendidikan di daerah dapat disesuaikan dengan
keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.Hal ini sejalan dengan upaya
peningkatan mutu pendidikan nasional, sehingga pengembangan dan implementasi
kurikulum muatan lokal mendukung dan melengkapi KTSP.Ruang lingkup muatan lokal
yang sangat banyak dan juga mencakup seluruh aspek, yang disesuaikan dengan
daerah masing- masing. Ruang lingkup
yang sangat luas
tersebut juga akan menjadikan ciri khas setiap sekolah.
Kelebihan muatan lokal ini akan memberikan pengetahuan yang berbeda untuk siswanya.
Termasuk muatan lokal keterampilan yang merupakan salah satu muatan
lokal yang berbeda dengan yang lain. Keterampilan yang diberikan menjadikan
bekal untuk siswa dalam melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.
Pengembangan
muatan lokal perlu memperhatikan potensi daerah yang meliputi (1) Sumber Daya Alam (SDA); (2) Sumber Daya
Manusia (SDM); (3) Geografis; (4)
Budaya; dan (5) Historis. Berdasarkan
pengalaman yang lalu,
setiap daerah memiliki berbagai pilihan mata pelajaran muatan lokal baik untuk cakupan wilayah propinsi,
kabupaten maupun kecamatan. Sehubungan dengan itu, dalam pelaksanaannya
terdapat beberapa tahap yang dilalui, baik pada tahap persiapan maupun pada
pelaksanaannya
2. Saran
a) Pembaca hendaknya ikut melestarikan budaya yang ada
di sekitar tempat tinggal.Karenahal ini merupakan salah satu warisan bangsa dan
budaya yang harus dilestarikan. Untuk itu diharapkan pembaca lebih memahami
budaya-budaya yang berkembang, sehingga kebudayaan tersebut tidak akan punah.
b) Guru hendaknya biasa menerapkan dan mengembangkan
kurikulum muatan lokal untuk mengajarkan tentang budaya atau tradisi kepada
siswa, termasuk pada saat pelaksanaannya di lapangan.
Daftar Pustaka
Arifin,
Zainal, 2011.Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum .Bandung:PT Remaja
Rosdakarya
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Link and Match. Jakarta: Seri kebijakan
Dakir.2004.
Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Rineka Cipta, Jakarta
Mulyasa,
E. 2010. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. .Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Suharsimi
Arikunto dan Asnah Said. 1998. Pengmbangan Program Muatan Lokal (PPML).
Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Proyek Peningkatan Mutu Guru
Kelas Setara D-II.
http://guruw.wordpress.com diakses pada 14 September 2013
